Rio Ashadi Tekankan Kemitraan Mabi dan Kwartir dalam Pembinaan Pramuka Majalengka
Cingambul (Huminfo Kwarcab). Penguatan sinergi antara Majelis Pembimbing (Mabi) dan pengurus kwartir menjadi fokus kegiatan Orientasi Mabi dan Kwartir di lingkungan Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Majalengka yang berlangsung di Bumi Perkemahan Cibuyut Indah, Kecamatan Cingambul, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi sarana penyamaan pemahaman mengenai pembagian peran, penguatan komunikasi, dan penyelarasan program kepramukaan agar memberikan manfaat nyata bagi generasi muda serta masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Mabicab/Kwarcab Gerakan Pramuka Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M., Ketua Harian Mabicab H. Rd. Muhammad Umar Ma’ruf, M.Si., serta jajaran pimpinan dan andalan Kwarcab Majalengka. Peserta orientasi meliputi seluruh pengurus Kwarcab Majalengka, ketua Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran), pimpinan Satuan Karya Pramuka (Saka), dan ketua Kwartir Ranting (Kwarran) se-Kabupaten Majalengka.
Sekretaris Komisi Bina Muda Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kak Rio Ashadi, hadir sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Sinergi Strategis Kwartir dan Mabi Menuju Majalengka Unggul”. Melalui materi tersebut, Rio menekankan pentingnya hubungan kemitraan yang saling menguatkan antara unsur pembimbing dan pengelola organisasi dalam membangun ekosistem pembinaan generasi muda.
Rio menjelaskan bahwa Mabi dan kwartir merupakan mitra strategis dengan tanggung jawab yang saling melengkapi. Kwartir berperan dalam perencanaan dan pelaksanaan program, pengelolaan organisasi, serta peningkatan kualitas pembina dan peserta didik. Sementara itu, Mabi memberikan bimbingan, dukungan kebijakan, serta fasilitasi sumber daya untuk menunjang keberlangsungan pendidikan kepramukaan.

Pembagian peran tersebut, menurut materi yang disampaikannya, perlu dipahami bersama agar dukungan Mabi dapat memperkuat pelaksanaan program sekaligus menjaga kemandirian kwartir dalam mengelola kegiatan teknis kepramukaan. Hubungan keduanya perlu dibangun melalui komunikasi yang terbuka, perencanaan bersama, dan pertanggungjawaban yang transparan.
“Kepemimpinan yang hebat bukan tentang memerintah, melainkan merajut kolaborasi dan melayani masa depan,” demikian pesan Rio dalam materi orientasinya.
Dalam konteks pembinaan di tingkat kecamatan, Rio menempatkan camat selaku ketua Mabiran sebagai penghubung strategis antara program Kwarran dan kebutuhan pembangunan wilayah. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui koordinasi lintas unsur, fasilitasi kegiatan, serta penguatan hubungan dengan pemerintah desa dan gugus depan.
“Camat adalah simpul utama penggerak kepramukaan di akar rumput,” tulis Rio dalam materi yang menjadi bahan orientasi.
Penguatan peran Mabiran juga diarahkan untuk mendukung keaktifan gugus depan dan membuka ruang keterlibatan Pramuka dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan koordinasi yang terencana, pembinaan kepramukaan diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan lingkungan, termasuk dalam kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Pada tingkat Satuan Karya Pramuka, materi orientasi menyoroti pentingnya keterpaduan pembinaan dengan program instansi terkait. Saka diharapkan menjadi wadah pengembangan keterampilan khusus generasi muda melalui kegiatan yang relevan dengan bidang kesehatan, lingkungan, keamanan, maupun bidang pengabdian lainnya.
Rio juga menekankan perlunya pengurus Kwarcab dan Kwarran membangun komunikasi secara berkelanjutan dengan Mabi. Komunikasi tersebut perlu mencakup penyampaian kebutuhan pembinaan, rancangan kegiatan, capaian program, dan laporan pertanggungjawaban sehingga hubungan kelembagaan tumbuh atas dasar kepercayaan serta tanggung jawab bersama.
Materi orientasi turut memuat skenario pemecahan masalah yang berkaitan dengan dukungan fasilitas, perencanaan pendanaan, dan penguatan aktivitas Saka. Melalui pendekatan tersebut, peserta diarahkan untuk memahami sudut pandang masing-masing unsur serta merumuskan penyelesaian secara kolaboratif.
Salah satu penekanan dalam skenario tersebut adalah pentingnya melibatkan Mabi sejak tahap identifikasi kebutuhan dan penyusunan rencana kegiatan. Pelibatan sejak awal diharapkan dapat membangun pemahaman bersama mengenai tujuan, manfaat, dan kebutuhan program sehingga dukungan yang diberikan lebih terarah.

Selain penguatan tata kelola, orientasi ini mengangkat pentingnya pembinaan Pramuka yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Literasi digital, komunikasi kebencanaan, kepedulian lingkungan, dan dukungan terhadap kemandirian pangan menjadi contoh ruang pengabdian yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi daerah.
“Pramuka tidak sekadar berkemah, melainkan agen transformasi peradaban bangsa,” demikian penegasan dalam materi orientasi yang disampaikan Rio.
Sebagai arah tindak lanjut, materi orientasi menawarkan penguatan konsolidasi berkala antara Kwarcab, Mabiran, dan unsur pembimbing Saka, disertai penyelarasan rencana kerja serta pengaktifan forum koordinasi di tingkat ranting. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat kesinambungan pembinaan dan memperluas manfaat kegiatan kepramukaan.
Melalui Orientasi Mabi dan Kwartir ini, Kwarcab Gerakan Pramuka Majalengka berupaya membangun kesamaan pemahaman, memperjelas tanggung jawab kelembagaan, serta meningkatkan kualitas kerja sama dalam pembinaan generasi muda. Sinergi yang semakin kuat diharapkan melahirkan program kepramukaan yang terencana, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi terbentuknya generasi Majalengka yang berkarakter, terampil, mandiri, serta peduli terhadap masyarakat.
Kontributor: Endang Mu’min

Tinggalkan Komentar