65 Pramuka Penegak Majalengka Asah Keterampilan Berbicara di Depan Publik
Majalengka (Huminfo Kwarcab) Sebanyak 65 Pramuka Penegak dari berbagai pangkalan se-Kabupaten Majalengka mengikuti Pelatihan Kehumasan dan Keprotokolan di Aula Kecamatan Majalengka, Jumat (16/10/2026). Melalui pembekalan keterampilan berbicara di depan umum atau public speaking, peserta memperoleh pemahaman tentang cara menyampaikan pesan secara jelas, percaya diri, dan sesuai dengan karakter khalayak.
Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Dewasa (Waka Binawasa) Kwarcab Majalengka, Kak Anto Irianto, S.Pd., M.Pd., menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Materi yang disampaikan mencakup unsur penting komunikasi lisan serta teknik dasar berbicara di depan publik yang dapat diterapkan dalam kegiatan kepramukaan, kehumasan, dan keprotokolan.
Dalam pemaparannya, Anto Irianto menjelaskan bahwa public speaking merupakan kemampuan berbicara di depan khalayak untuk menyampaikan pesan secara efektif. Kemampuan tersebut memerlukan penataan pikiran, pemilihan diksi yang tepat, bahasa tubuh yang mendukung, gaya berbicara yang sesuai, serta komunikasi yang terjalin dengan audiens.
“Berbicara di depan umum bukan sekadar berani tampil. Kita perlu menata pikiran, memilih kata yang tepat, dan menyampaikan pesan dengan cara yang dapat dipahami oleh audiens,” ungkapnya.

Penataan pikiran menjadi landasan agar pembicaraan memiliki arah dan tidak melebar dari tujuan. Karena itu, peserta perlu memahami topik secara mendalam serta menyusun poin-poin materi sebelum tampil. Dengan persiapan tersebut, pesan dapat disampaikan secara runtut, mulai dari pembukaan, pembahasan inti, hingga penutup.
Pemilihan kata juga perlu mempertimbangkan latar belakang audiens. Bahasa yang digunakan hendaknya mudah dipahami, santun, dan sesuai dengan situasi. Dalam konteks kehumasan dan keprotokolan, ketepatan diksi membantu pembicara menyampaikan informasi dengan jelas sekaligus menjaga kesopanan dalam berkomunikasi.
Materi berikutnya membahas keselarasan antara ucapan dan bahasa tubuh. Sikap berdiri, gerakan tangan, ekspresi wajah, serta kontak mata dapat membantu memperkuat pesan. Kontak mata dapat dimulai dengan mengarahkan pandangan kepada salah satu peserta, kemudian dialihkan secara wajar ke bagian lain agar perhatian menjangkau seluruh audiens.
“Kenali siapa yang kita ajak berbicara, sesuaikan gaya penyampaian, dan bangun interaksi. Ketika audiens merasa dilibatkan, komunikasi akan menjadi lebih hidup dan pesan lebih mudah diterima,” tuturnya.

Pembekalan teknik dasar turut mencakup pentingnya latihan secara berulang. Persiapan dapat dilakukan dengan melatih penyampaian materi, memperbaiki gestur, serta mempelajari teknik presenter berpengalaman untuk menemukan gaya berbicara yang sesuai dengan karakter diri.
Pada bagian pembukaan, peserta dibekali pemahaman tentang pentingnya kalimat awal yang menarik dan relevan dengan topik. Sementara itu, pengaturan intonasi, volume suara, dan jeda diperlukan agar penyampaian tidak monoton serta bagian penting dari materi memperoleh penekanan yang tepat.
Manajemen waktu juga menjadi bagian dari keterampilan yang perlu dikuasai. Pembicara perlu membagi durasi secara proporsional agar seluruh pokok pembahasan tersampaikan dan tersedia waktu untuk memberikan penutup yang baik. Penutup dapat digunakan untuk menegaskan kembali pesan utama atau menyampaikan ajakan yang sesuai dengan tujuan pembicaraan.
Dalam mengatasi kegugupan, peserta diarahkan untuk membangun kepercayaan diri melalui penguasaan materi dan latihan. Adapun pesan agar tidak meminta maaf dipahami sebagai upaya menghindari permintaan maaf yang tidak diperlukan pada awal penampilan, seperti merendahkan kemampuan diri sebelum mulai berbicara. Permintaan maaf tetap tepat disampaikan apabila terjadi kesalahan yang memang perlu diperbaiki.
“Percaya diri tumbuh melalui persiapan dan latihan. Kuasai materi, atur waktu, dan terus berlatih agar kita semakin siap menyampaikan pesan di hadapan orang lain,” ujarnya.
Pelatihan berlangsung interaktif melalui komunikasi antara pemateri dan peserta. Pola penyampaian tersebut membangun suasana yang hangat dan hidup serta mendapat respons antusias dari peserta.

Pembekalan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kecakapan komunikasi Pramuka Penegak agar lebih siap menjalankan peran dalam kegiatan organisasi. Keterampilan tersebut dapat menjadi bekal ketika menyampaikan informasi pangkalan, memandu acara, memberikan penjelasan kepada masyarakat, maupun mewakili organisasi dalam berbagai kesempatan.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menerapkan teknik berbicara di depan publik secara bertahap di pangkalan masing-masing. Kemampuan menyampaikan informasi secara jelas, santun, dan bertanggung jawab diharapkan turut mendukung pelaksanaan kegiatan kepramukaan sekaligus memperkuat citra positif Gerakan Pramuka di Kabupaten Majalengka.
Kontributor : Endang Mu’min

Tinggalkan Komentar